Kisah Bung Karno Masa Kecil Menangis Tidak Bisa Menyulut Petasan

ROSO Daras dalam buku “Sukarno, Serpihan Sejarah yang Tercecer” menceritakan kisah Bung Karno saat kecil masih bernama Kusno ketika lebaran.

Tradisi menyulut petasan atau mercon merupakan tradisi lama. Tidak semua anak bisa merasakan kegembiraan menyalakan petasan. Satu di antaranya adalah Kusno, ya si Kusno alias Sukarno kecil.

Lebaran demi lebaran, ia masih bersabar tidak ikut larut dalam kegembiraan menyalakan petasan. Ia masih bisa bersabar dan hanya tidur merenung dengan mata berkaca-kaca di bilik kamarnya yang kecil, di rumahnya di bilangan Kota Mojokerto.

Malam menjelang Lebaran yang tak bisa ia lupakan, adalah manakala kegalauan hatinya makin membuncah.

Saat itu, ia tak kuasa menahan kesedihan hingga menangis di pangkuan sang bunda. Dengan kesal Kusno menggerutu, “Dari tahun ke tahun aku selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon.”

Maksud Kusno adalah menyulut petasan, melepas petasan luncur. Apa daya, sang Bunda pun tak berdaya, karena harga mercon terlalu mahal untuk keluarga Soekeni–Idayu.

Di bilik yang lain, Soekeni hanya diam menyaksikan anaknya begitu mendambakan mercon.

Keesokan malamnya, adalah suatu malam yang kemudian menjadi malam paling indah bagi Kusno kecil. Karenanya, ia tidak pernah melupakan kejadian malam itu sepanjang hayatnya.

“Apakah malam di mana ia dibelikan mercon? Tidak persis seperti itu, tetapi intinya, sama, ya, di malam ia… pada akhirnya… mendapatkan mercon!,”ucap Roso.

Tidak sama persis karena yang memberikan bukan sang ayah atau sang bunda. Melainkan, seorang tamu yang berkunjung pada suatu malam. Tamu dari bapaknya. Kemudian, sang tamu itu memanggil Kusno dan menyerahkannya bungkusan kecil berisi mercon.

“Ini,” kata sang pemberi mercon, sambil mengulurkan benda paling berarti dalam hidup Kusno saat itu.

“Kusno? Matanya membelalak… tangannya gemetar menerima bungkusan mercon itu. Mulutnya terkatup rapat. Bahkan nyaris lupa untuk mengucap kata terima kasih kepada sang budiman malam itu,” paparnya.

Ia segera menghambur ke kamar, membuka bungkusan, memastikan bahwa itu benar-benar mercon! Ia pegang dan pandangi mercon itu dalam-dalam. Ia menarik nafas kegembiraan yang tiada tara.

AleRiqwan
Jangan Bosan Saling Berpesan Dalam Kebaikan